<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8213161100145987791</id><updated>2012-02-16T11:09:19.089-08:00</updated><category term='Sajak'/><category term='Cerpen'/><category term='Essai'/><title type='text'>Pecinta Malna</title><subtitle type='html'>Mengapresiasi Karya Afrizal Malna</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://masturbasikata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masturbasikata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kira</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_6uUfsLdXLR4/TCplLtCpJSI/AAAAAAAAAJE/ML-HDMBRMhs/S220/sartre.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8213161100145987791.post-108930733594403169</id><published>2012-01-14T03:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T03:19:37.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Tujuh Sajak Afrizal Malna</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kamar yang Terbuat dari Laut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa  kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap  malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas  laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa  kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut,  kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahku  jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit  Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ.  Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk,  dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek.  Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus  membakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan  lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam  tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat  dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia,  mengambil batuk dan demamku dengan jari-jarinya yang terbuat dari  tulang-tulang ikan, dengan jari-jarinya yang terbuat dari darah ikan.  Laut tempat waktu melukis seluruh warna di permukaannya. Laut yang  membuat kerudung ibumu seperti lempengan emas di senja hari. Sebuah  hempasan waktu yang telah menelan seluruh leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar yang  terbuat dari laut itu kemudian bercerita … kau telah menjadi seorang  ibu, Ram, untuk masa kanak- kanakmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu  seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di  atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut  knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik,  tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit  pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti  piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku  bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku.  Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku  terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela.  Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar  jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku  menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam  minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah  di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai  berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang  tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam  tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan Murid  Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah truk  mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari  sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu,  seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di  leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa  harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah  truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang  tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang  jagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah  membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku  sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku  tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya  pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang  telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh  dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari  botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan  murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan  lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri  di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap  memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk  menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan,  punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api.  Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat  tatapan matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti  kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua  kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan,  melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak  tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Aku Baru Saja  Mengepel Lantai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja mengepel lantai. Aku  berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel  tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu  telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi.  Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana  aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus  menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan  juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan  berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak  bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan  juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di  dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam  pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga  tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi  aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu.  Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam.  Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korek Api di Atas Bayanganmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan  menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas  membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih.  Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu:  Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang  tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku  menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan  menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak  melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi  lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah  dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan  dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan  sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap  kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke  batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan  sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sebutir Telur di Belakang Punggungku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau  telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di  belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara.  Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk  membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang  ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat  dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati  berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam  pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah  terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir.  Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain  di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur  tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu  buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa  saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku buat  sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk  tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih  seperti musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bau  Air Mata di Bantal Tidurmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali hutan telah  bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya  seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang  mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari,  tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi  sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku.  Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan  kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti  menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim  Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq  Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang  yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari  hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat  pusaran- pusaran air di Tering Seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian yang mengajariku  tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari  terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru  datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan  mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata  mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca  kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung  berhinggapan di jari-jari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali, ribuan  bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga  anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi  hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan  jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak  itu ibuku tak pernah menari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil  selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau  tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat  lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang  hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh  isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh  di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal  tidurmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8213161100145987791-108930733594403169?l=masturbasikata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masturbasikata.blogspot.com/feeds/108930733594403169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8213161100145987791&amp;postID=108930733594403169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/108930733594403169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/108930733594403169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masturbasikata.blogspot.com/2012/01/tujuh-sajak-afrizal-malna.html' title='Tujuh Sajak Afrizal Malna'/><author><name>Kira</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_6uUfsLdXLR4/TCplLtCpJSI/AAAAAAAAAJE/ML-HDMBRMhs/S220/sartre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8213161100145987791.post-8127137032085602041</id><published>2012-01-14T03:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T03:13:52.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essai'/><title type='text'>PROSES BUNUH DIRI DARI BAHASA</title><content type='html'>Hampir setiap hari saya hidup bersama tujuh ekor anjing. Manakala tidak ada orang lain, hampir sepenuhnya saya bersama mereka. Kami mengalami komunikasi sebagai hubungan konkret tanpa penyaring. Mereka bercanda dan saya bekerja. Kadang mereka menemani saya di sekitar ruang kerja saya. Komunikasi saya bersama mereka berlangsung hampir tanpa jarak karena memang tidak ada bahasa yang mewakili hubungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika saya mengangkat piring, mereka tahu waktu makan sudah tiba. Dan mereka mulai berkumpul di dapur. Ketika saya memadamkan lampu, mereka tahu harus masuk rumah dan tidur malam. Ketika ada orang datang, mereka menyalak dan mulai mereka-reka apakah itu tamu saya atau bukan. Saya tidak tahu, apakah mereka juga menunggu kapan saya bisa menyalak seperti mereka. Ketika saya pulang, mereka akan mengerubungi saya, mengayun-ayunkan buntut mereka dan melompat-lompat untuk bisa menyentuh tubuh saya. Komunikasi kami berlangsung lewat tatapan mata, suara, atau jilatan lidah mereka; langsung tanpa abstraksi ataupun distraksi. Tubuh kami adalah bahasa itu sendiri walaupun belum tumbuh buntut pada tubuh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tubuh kami tidak menyimpan kode-kode kekuasaan atau identitas, yang biasanya ditanamkan melalui bahasa. Kekuasaan langsung diperlihatkan melalui taring, salakan, atau kencing mereka untuk menandai ruang teritori kekuasaan di antara mereka. Tubuh kami bukanlah abstraksi dari nilai-nilai yang menanamkan konflik untuk mengerti diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengaitkan sastra dengan bahasa merupakan mata rantai politik identitas yang tidak saya alami bersama dengan anjing-anjing saya. Politik identitas yang menempatkan bahasa masih sebagai pusat dari bagaimana manusia mengalami momen-momen kreatifnya. Pengaitan yang tidak pernah bisa menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan sastra berlangsung sebagai negosiasi baru antara sastrawan dan bahasa yang digunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagai penyair, saya melihat bahasa Indonesia bukanlah identitas pertama saya. Bahasa Indonesia tidak lebih hanya sebagai bahasa yang terberi, saya gunakan sehari-hari, dan merupakan bahasa politik untuk nasionalisme kita. Awalnya saya tidak bisa membedakan apakah momen-momen kreatif, saya alami lewat bahasa atau lewat tubuh saya sendiri. Setelah saya kian dekat dengan tubuh saya lewat pekerjaan-pekerjaan yang langsung menggunakan tubuh, making love dan pengalaman mabuk, tubuh merupakan medan bahasa pertama saya untuk mengalami in-out-nya identitas dan kesadaran. Membiarkan tubuh saya diwakili oleh bahasa, sama dengan membiarkan proses depersonalisasi terhadap tubuh saya berlangsung terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kesadaran ini, bahwa momen kreatif tidak saya alami semata lewat bahasa atau sebagai peristiwa bahasa, kian definitif saya rasakan lewat berkembangnya media digital, pembesaran dan penggandaan gaya hidup, ruang, dan waktu menjadi kian relatif. Identitas berlangsung lebih sebagai proses instan yang dimobilisasi lewat media. Orang mengatakan, ini kebudayaan dangkal, sompretlah. Tubuh jadi terbuka melakukan pembacaan atas kehadiran diri sendiri dan kehadiran yang-lain-yang-tak-terduga dan tak-bernama, dan sekaligus melakukan berbagai mutasi dalam keterbukaan ini. Mata dan telinga melakukan zoom-out-zoom-in, memainkan dinding- dinding visual dan auditif atas pikiran saya. Tubuh mengalami mistifikasi di luar bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di tengah medan tubuh seperti itu, bahasa menjadi begitu rapuh. Pesan- pesan paradigmatik bahasa mudah diguncang hanya dengan memainkan titik dan koma, atau dengan melakukan koreografi lain atas penggunaan imbuhan terhadap kategori-kategori kata. Hubungan sastra dan bahasa tidak terletak pada bagaimana kita memperlakukannya sebagai kamus dan sebagai identitas. Melainkan hanya sebagai material penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Politik identitas yang menggantung sastra di atas tiang gantungan bahasa tidak bisa lagi menjelaskan bagaimana tubuh melakukan mistifikasi terhadap berbagai gejala yang dialaminya. Bahasa membuat sastrawan terasing dengan tubuhnya sendiri, dan membiarkan bahasa sebagai pusat dari sarang nilai-nilai yang menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konstruksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika konstruksi sosial masih utuh menjaga bahasa sebagai bahasa komunitas—sebagaimana halnya dengan syair dan pantun—hubungan sastra dan bahasa memang organik. Rima, oleh sastra, diproduksi langsung sebagai kekuatan dari bahasa itu sendiri. Akan tetapi, kini semestinya terjadi koreografi yang unik dalam dunia sastra antara tubuh, bahasa, dan berbagai media elektronik di sekitar kita dalam mereproduksi rima-rima auditif ataupun visual. Dan menjelaskan kian retaknya komunitas sosial dari bahasa. Internalisasi sastrawan terhadap bahasa, sebenarnya sedang terguncang oleh tekanan eksternal dari media elektronik yang memiliki gramatika visual dan auditifnya sendiri. Berhadapan dengan bahasa, sama dengan berhadapan dengan ”kheos narasi” dalam ruang domestik bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemahaman di atas memang bisa dilihat sebagai agresi terhadap para penyair yang masih bergantung kepada kata. Maka, ketika bahasa bukan lagi segala-galanya untuk puisi, lalu kepada apakah identitas puisi harus bergantung? Persoalan seperti ini tidak terjadi pada sajak, karena sajak memang berhubungan organik dengan bahasa, karena sajak memainkan kerja koreografi bahasa yang inheren ada di dalam bahasa itu sendiri, terutama potensi bunyi pada bahasa. Karena itu, bisa dipahami pandangan Amir Hamzah yang melihat pantun dan syair sebagai tiang penyangga dan lantai sekaligus untuk keberadaan bahasa Melayu. Selama masyarakat tidak meninggalkan syair dan pantun, maka Melayu tidak akan runtuh, katanya (dalam HB Jassin, Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru, Jakarta: 1962).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Puisi, yang merupakan anak dari modernisme, hasil solusi sejarah sastra untuk keluar dari pertentangan antara sajak dan prosa, kian kesepian berhadapan dengan hiruk-pikuk berbagai narasi yang diproduksi oleh ”kebudayaan dangkal itu” (identitas sebagai proses instan). Puisi terkepung oleh kheos narasi yang berlangsung di sekitarnya. Agresi dari ”kebudayaan sompret” itu, seakan-akan tidak bisa dilawan lagi karena ia kian tertanam dalam masifikasi mekanisme penggandaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kheos narasi itu, ada dua fenomena yang berlangsung dalam puisi-puisi masa kini. Pertama, para penyair yang melakukan ”brutalisasi bahasa” dalam puisi. Mereka yang menulis puisi dengan prosa (paralel dengan mereka yang menulis prosa dengan puisi). Fenomena yang berlangsung bersamaan dengan kheos narasi-narasi urban. Dan kedua, munculnya konservatisme baru untuk para penyair yang kembali menulis puisi di dalam sajak. Keduanya berusaha melakukan reinteriorisasi puisi. Kadang-kadang, kedua fenomena ini dilakukan bolak-balik oleh penyair, seperti yang dilakukan Nirwan Dewanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fenomena pertama, muncul antara lain pada puisi-puisi Joko Pinurbo, Wendoko dan Mardi Luhung. Sementara, fenomena kedua, tampak merupakan mayoritas, terutama setelah terbitnya Koran Tempo yang memiliki rubrik puisi, dan dikelola oleh Nirwan Dewanto sendiri. Puisi-puisi Ook Nugroho, Ni Putu Rastiti, Hasan Al Bana, Hasan Aspahari, Anda S, Ahda Imran, beberapa puisi Hanna Fransisca dan Nirwan Dewanto sendiri lebih banyak memperlihatkan fenomena kedua itu. Fenomena yang memperlihatkan formalisme baru dalam puisi yang merampingkan bahasa, atau melakukan minalisasi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fenomena lain dari reinteriorisasi puisi masa kini berlangsung lewat penulisan dan pembacaan kembali mitologi seperti yang dilakukan Gunawan Maryanto atau Triyanto Triwikromo. Internalisasi narasi lokal seperti yang dilakukan Raudal Tanjung Banua. Fenomena yang ikut merayakan musim panjang lirisisme puisi Indonesia di tengah kian banyaknya muncul komunitas-komunitas sastra yang berbasiskan puisi; penerbitan buku puisi di Sumatera, Jawa, ataupun Kalimantan; dan hiruk-pikuk puisi di internet. Sri Andy Wahyudi justru menggunakan imaji anak-anak dalam puisi-puisinya, menganggap dunia orang dewasa sebagai dunia yang lucu dan tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terbitnya kumpulan puisi Ook Nugroho (Hantu Kata, 2010), saya kira bisa dibaca sebagai kheosnya hubungan puisi dengan bahasa, yang oleh Ook, kheos ini dijinakkan sebagai kheos puitik.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8213161100145987791-8127137032085602041?l=masturbasikata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masturbasikata.blogspot.com/feeds/8127137032085602041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8213161100145987791&amp;postID=8127137032085602041' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/8127137032085602041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/8127137032085602041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masturbasikata.blogspot.com/2012/01/proses-bunuh-diri-dari-bahasa.html' title='PROSES BUNUH DIRI DARI BAHASA'/><author><name>Kira</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_6uUfsLdXLR4/TCplLtCpJSI/AAAAAAAAAJE/ML-HDMBRMhs/S220/sartre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8213161100145987791.post-4885936523574896196</id><published>2012-01-14T03:10:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T03:11:36.317-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Rumah Bercerita 460 Watt</title><content type='html'>Cerpen: Afrizal Malna&lt;br /&gt;Sumber: Kompas, Edisi 04/02/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Memperbaiki talang yang bocor, menggali lubang untuk resapan, membuat pagar bambu, mengecat kamar mandi, memperbaiki engsel pintu dan jendela, memasang kabel-kabel listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Tidak cukup untukku hidup. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Tapi aku akan mencobanya, hidup dengan 460 watt. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik, karena tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah, tidak terlalu membutuhkan listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Kadang aku sebel, karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Kalau listrik tiba-tiba mati, karena pemakaian yang berlebihan, aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Karena sebel, kadang aku biarkan listrik tetap mati, lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Sebagai seorang penulis, aku menjadi sangat kerepotan. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Beberapa teman membantuku. Ah… Han, Boi, Katon, Wianta… tengkeyu. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. He-he… tengkeyu. Tengkeyu, man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir, walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Terus dikeduk, sehingga terjadi sebuah kubangan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah rumah, ada bilik sederhana berdiri, tempat seorang petani biasa beristirahat. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Kadang aku ragu, apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu, hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah ini sudah dua tahun kosong. Tak ada orang yang mengontrak. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka, termasuk mengusir rezim kesenian. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka, dari teras depan hingga kamar mandi; beberapa lukisan berjamur, timbunan pasir yang mengotorinya, dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman bercerita, di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk, lalu mengalami kecelakaan dan mati. Pelukis perempuan itu sudah mati, tapi lukisannya masih ada. Ada di depanku. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Waktu yang membuat sebuah pintu, tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang anjing kami, Kopi dan Kremi, langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa, kecemasanku muncul lagi. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembab. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas, tetapi karena lembab. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu, kadang kilatan-kilatan petir. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu, aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu, atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara aku dan genteng kaca, seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Dan mereka tidak bisa saling mendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang, tapi aku melihat tubuhku sedang mandi, membersihkan diri dari kotoran. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai, atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 10 tahun yang lalu, aku pernah datang ke rumah ini. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto, seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Dadang menyewa tanah ini selama 15 tahun, dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Orang cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Betapa malangnya hidup ini, kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur, lalu berdiri sebuah bangunan baru, entah untuk rumah atau untuk ruko. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi, diambil oleh beton-beton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan, agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dang, apakah rumah ini pernah mengalami banjir?” tanyaku kepada Dadang. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya, karena dia harus pindah ke kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kalau hujan besar, air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang,” jawab Dadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat 1.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut, di Ancol, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut, dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. 1.000 patung Dadang ada di dalamnya, mungkin diberi judul: “Instalasi Manusia Pengungsi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Manajer itu orang asing. Ketika dia meninggalkan rumah ini, dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku, aku harus kembali menimba air dari sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu memang terus bercerita. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Dan aku mulai kehabisan uang. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Ketika aku tak punya uang, rumah itu mirip dengan peti mati. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Kalau aku mati, pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup, maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela, bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He-he-he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fit, sayangku, hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Dia akan datang dengan sebotol Vodka, saxophon, dan sebuah harmonika. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Aku terus menggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Waktu terasa dingin, bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Perutku seperti tertekuk ke dalam, menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Mata menatap mata. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri, dan bukan bayangan mata air. Kalau itu juga adalah bayangan mata air, maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan mulai berhenti. Langit mulai terang, biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8213161100145987791-4885936523574896196?l=masturbasikata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masturbasikata.blogspot.com/feeds/4885936523574896196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8213161100145987791&amp;postID=4885936523574896196' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/4885936523574896196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8213161100145987791/posts/default/4885936523574896196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masturbasikata.blogspot.com/2012/01/rumah-bercerita-460-watt.html' title='Rumah Bercerita 460 Watt'/><author><name>Kira</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_6uUfsLdXLR4/TCplLtCpJSI/AAAAAAAAAJE/ML-HDMBRMhs/S220/sartre.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
