Kaki-Kaki Air

SETELAH banjir sebulan yang lalu, yang menghanyutkan seorang gubernur dan mayatnya lenyap di Sungai Ciliwung, banyak jalan yang berlubang. Sejak itu warga kota sering bermimpi buruk tentang lubang-lubang di jalan raya itu, juga tentang kematian gubernur. Rakyat merayakan kematiannya sebagai kematian sebuah monster kota. Ruwatan kota dilakukan di Sunda Kelapa. Rakyat melakukan doa di atas perahu, mensucikan kembali jiwa-jiwa yang pernah tersiksa sepanjang hidupnya. Kampung-kampung juga melakukan selamatan bersama untuk mengembalikan arti kehidupan bersama. Tetapi kota ini memang seperti sebuah baskom yang buas. Ruko-ruko berjejer seperti pagar kota, namun juga sebagai kayu api yang mudah dibakar setiap kerusuhan terjadi. Seorang ibu yang mengantar anaknya sekolah, harus melompati atap-atap mobil untuk bisa menyeberangi jalan yang macet. Seorang pengendara sepeda berlari tanpa hambatan, melompati atap bis satu dengan atap bis lainnya. Anak-anak sekolah bermain basket di atas atap kereta jurusan Depok-Kota. Aih, Jakarta, kau seperti seorang nyonya dengan betis bengkak, dipenuhi dengan sardencis, sosis, dan mentega. Aku membeli koran pagi itu. Kota ini selalu ramai dengan berita. Ada wakil presiden yang istrinya tujuh. Ada seorang presiden yang disandera dalam video. Uang beredar trilyunan dalam sehari. Harga kurs dan saham. Ada pesta putauw di rumah wakil gubernur Jawa Barat. Kedubes Amerika ditutup, kenaikan terigu. Ada pencuri pete yang mati digebuki massa yang menangkapnya. Ada anggota partai yang dikarantina agar suara mereka tetap bulat dalam pemilihan gubernur. Padahal gubernur yang akan dipilih itu telah mati dalam banjir yang lalu. Ada bandar heroin yang tertangkap. Tiba-tiba sebuah bis keluar dari koran yang sedang aku baca. Kondekturnya berteriak-teriak: “Grogol!”

“Grogol!”

“Di jalan raya mesti sopan, dong.”

Buset, bagaimana orang bisa membangun kualitas hidupnya di kota seperti ini. Warga kota hanya soal hitungan pajak, bukan? Dan bagian-bagian mana saja dari kota ini yang bisa diperas. Tidak usah khawatir, kualitas itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana seluruh transaksi harian bisa dilunasi, bukan? Dan mimpi buruk, jiwa-jiwa yang memaknai hidupnya sendiri lewat kegelapan, adalah cara negatif untuk mengisi kekosongan berbagai proses kualitas kehidupan setiap warga agar tetap berlangsung. Lebih baik aku meralat dusta pagi ini. Sebenarnya aku tidak membeli dan membaca koran. Sebenarnya berita-berita itu juga tidak pernah ada. Pagi itu aku sedang menyapu di halaman. Membersihkan tanaman yang kering dan menyiramnya. Tanaman perdu ramai sekali bercerita tentang akarnya yang terasa perih karena kekurangan air. Pohon mangga gatal-gatal, badannya dijangkiti jamur berwarna putih. Tetapi apa bedanya, sebuah bis tiba-tiba muncul dari bongkahan tanah. Kondekturnya berteriak-teriak: “Grogol!”

“Grogol!”

“Di jalan raya mesti sopan, dong.”

**

MATAHARI baru saja melepaskan diri dari sebuah tembok tinggi yang atasnya dikelilingi kawat berduri pagi ini. Kota terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Orang-orang juga lebih banyak tinggal di rumah. Sebagian besar kantor dan daerah perdagangan tutup. Sesuatu sedang terjadi di kota ini. Dua hari yang lalu beberapa lubang di jalan raya tiba-tiba berubah menjadi sumur yang dalam. Airnya jernih. Dalam sumur itu hidup ikan-ikan yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Jilan, anakku, sering melihat ke sumur-sumur itu. Dan setiap ia pulang, setelah melihat sumur-sumur itu, aku melihat matanya telah berubah menjadi sepasang sumur yang dalam, yang airnya jernih, dan ada ikan-ikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wabah sumur ini bergerak begitu cepat, jutaan warga dalam waktu cepat, matanya berubah menjadi sumur yang dalam, airnya jernih, dan ada ikan-ikan yang belum pernah ada sebelumnya. Makhluk dengan mata seperti sumur itu kini mewarnai kehidupan kota sehari-harinya. Gejala lain kemudian muncul, sumur itu ternyata mulai memiliki kekuatan yang tak terduga. Setiap kendaraan bermotor yang melewati sumur-sumur itu, mesinnya seketika mati. Hanya kendaraan tak bermotor yang terus bisa berjalan. Begitu pula setiap warga kota yang matanya berubah menjadi sumur, seluruh alat-alat elektronik mati manakala mata mereka menatapnya. Banyak peralatan elektronik atau bermesin yang mendadak mati di kota ini. Orang-orang yang matanya belum menjadi sumur mendadak nilainya menjadi sangat mahal dan dilindungi. Merekalah kini yang dikerahkan bekerja menjalankan kehidupan kota. Mereka mendapat pengawalan super ketat. Bila ada yang mengganggu warga kota yang mendadak menjadi istimewa ini, akan ditembak di tempat. Berbagai cara digunakan untuk melindungi mereka. Pemerintahan kota kini sibuk memikirkan bagaimana caranya menutup sumur-sumur yang tumbuh di seluruh jalan di kota ini. Masalahnya tidak sederhana, karena orang yang berusaha menutupnya, dari matanya akan mengalir air mata terus-menerus, tak henti-henti. Tangisan yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun. Tangisan yang sedih dan pedih. Tangisan yang membuat setiap orang yang mendengarnya, seperti menyaksikan sebuah duka cita yang teramat sedih dan teramat panjang. Orang-orang kini tidak lagi membicarakan apa saja yang dilakukan dan telah terjadi sepanjang hari-hari mereka. Sejak kejadian itu, warga kota lebih banyak membicarakan apa artinya cinta dan apa artinya waktu. Entah kenapa kedua topik ini kini menguasai benak warga kota. Orang-orang yang matanya selamat untuk tidak menjadi sumur tidak terlepas dari perubahan topik pembicaraan ini. Mereka juga ikut membicarakan soal apakah cinta dan apakah waktu. Pekerjaan mereka untuk menjalankan mesin kota mulai ditinggalkan, karena mereka lebih banyak ngobrol soal dua topik itu. Para pengawal yang menjaga mereka tidak berkutik. Mereka tidak bisa melarang orang-orang itu untuk tidak membicarakan dua topik itu. Belum ada peraturan untuk melarang orang membicarakan soal cinta dan soal waktu. Bahkan para pengawal itu sering terpaku mendengarkan bagaimana mereka membicarakan cinta dan waktu. Nyanyian itu membuat langit seperti mengeluarkan cahaya biru di malam hari. Orang-orang terharu dengan perubahan ini. Mereka mulai merasa memiliki hubungan baru dengan langit. Melihat langit di malam hari seperti melihat kesibukan makhluk-makhluk yang tugasnya hanya merajut waktu dan merajut cinta. Nyanyian cinta dan nyanyian waktu terdengar di mana-mana. Banyak orang yang menciptakan lagu berdasarkan dua topik itu. Kota ini seketika berubah menjadi sangat romantis dengan nyanyian-nyanyian itu dan sumur-sumur itu. Orang kini lebih banyak menanam bunga dan menjahit pakaiannya sendiri, seakan-akan mereka juga sedang merajut waktu untuk hari esok mereka.

“Lihat, aku baru percaya sekarang, aku baru bisa merasakan sekarang, bahwa aku hidup!”

“Lihat, aku hidup, bukan?” teriak mereka. Tubuh mereka seperti dialiri oleh darah yang baru. Darah yang lama, yang kotor dan hitam pekat telah menguap entah ke mana. Kulit mereka, yang sebelumnya tampak mati oleh polusi yang biadab di kota ini, juga seperti berganti dengan kulit yang baru, segar, dan terasa halus. Bibir mereka tidak lagi kering dan kebiru-biruan. Tapi berwarna merah seperti tomat. Mereka hidup seperti tanam-tanaman. “Aduh... lihat... ada tomat, ada wortel, ada cabai, ada... Semuanya, deh, tanaman ada di sini,” kata Princess.

“Morgen, Princess, sayang.”

Kota ini, kini, tidak pontang-panting lagi mengikuti mesin yang memproduksi kecepatan berlipat ganda. Gerak menjadi normal, natural. Waktu juga berjalan normal, tidak berada jauh di luar akal sehat manusia. Gestur tubuh tidak lagi tampak tegang dan kaku. Orang berjalan seperti tarian. Bibir mereka seperti menyimpan banyak kata untuk keramahan. Pakaian mereka, aih, seperti ada rumah ibadah dalam tubuh mereka, rumah untuk bercinta.

**

SUATU hari, entah siapa yang memulai, rakyat di kota ini mulai menanami pohon di jalan-jalan berlubang itu. Pohon yang berbuah. Bukan pohon yang tidak menghasilkan buah. Seluruh jalan raya di kota ini kini berubah menjadi hutan kota. Hutan yang dibesarkan oleh sumur-sumur itu dan oleh tangan-tangan rakyat. Uang pajak untuk pemerintahan kota, juga digunakan sendiri oleh rakyat untuk membangun kota mereka yang kini menjadi kota baru itu.

“Ayah, aku ingin menjadi tukang sapu di kota ini,” kata Jilan. Dan kau tertawa mendengarnya, tawa yang dibanjiri oleh cara membaca dari mana hidup ini mesti dijalani. Dan cinta, tidak perlu lagi menggenggam sebilah pisau di tangannya, Cinta adalah janji pada setiap butir nasi yang kumakan, pada setiap air yang kuminum, pada setiap udara yang kuhirup. Cinta adalah ... sumur-sumur itu sedang menciptakan waktu dari kaki-kaki air.

Kalimalang, 2002

Dimuat di Kompas 10/06/2002

Seorang Hujan

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.

Tapi aku terus memikirkannya. Berhari-hari. Aku merasa keinginan itu seharusnya bisa aku lakukan. Mustahil aku tak bisa melakukannya. Aku membayangkan perpindahan seperti itu sesuatu yang seharusnya bisa dimiliki siapapun.

Aku membayangkan tubuh itu tidak beda jauh saat aku menyalakan lampu listrik. Cahaya tiba-tiba hidup di dalam tabung kaca. Ketika listrik aku matikan, cahaya itu juga ikut mati. Ia tidak berjalan keluar dari tabung kaca itu. Tapi mati. Padam. Darah bisa keluar dari tubuhku, keringat juga bisa menetes. Aku memikirkannya hingga musim hujan datang. Dan semua tentang pikiran itu berubah, saat hujan pertama betul-betul datang, turun di halaman rumah. Aku menatapnya dari balik jendela kaca. Tiba-tiba hujan itu membuka pintu rumahku. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu. Tubuhnya seperti gumpalan awan berwarna hitam legam. Ada suara halus yang terdengar dari dalam gumpalan awan hitam itu, seperti suara pesawat yang berbunyi konstan. Sejak itu aku mulai bersahabat dengannya. Aku memanggilnya hujan di pagi hari.

***

PAGI itu aku sedang berjalan bergandengan bersama hujan. Udara dingin. Angin membuat tirai dari air hujan, tipis, seperti ciuman di leher menjelang bangun tidur di pagi hari.

“Sudah lama aku menunggumu di lembah itu,” kataku. Hujan tak menjawab. Ia menggenggam tanganku seperti merasakan detak waktu yang bergerak. “Manusia tidak menarik karena ia bisa menghitung waktu,” katanya. Aku memandangnya. Wajahnya bersih. Rambutnya tersisir rapi. Rapi, seperti rajutan yang terbuat dari air.

“Aku tahu waktu tidak pernah bisa menyentuh dirimu,” kataku. “Kamu tidak pernah tua. Kamu selalu baru. Kamu tidak mengenal tubuh yang tumbuh menjadi dewasa, lalu tua, sakit dan mati. Kamu tidak pernah merasakan sakit, terluka, dan kesepian.” Hujan lalu membelah dirinya dengan belahan-belahan yang berulang. Cahaya biru yang tipis memancar pada setiap terjadinya pertemuan antarbelahan itu.

“Ini hari yang istimewa untukmu juga untukku sendiri,” katanya. “Aku datang 5 mil untuk menemuimu pagi ini, berlari menuruni lembah, menerjang hutan bambu dan mematahkan sebuah jembatan di sebuah sungai yang airnya deras dan berbatubatu.”

“Di musim bunga tahun lalu, ketika kupu-kupu hampir setiap pagi membuat tarian di lembah itu, dan cahaya matahari seperti sedang menciptakan tubuhku dari daun-daun kacang di lembah itu, aku sangat berharap kamu datang di lembah itu. Tapi kemudian aku sadar, kamu tidak mungkin menemuiku. Aku juga tidak mungkin menemuimu. Sudah kodratnya begitu. Kita saling berpapasan, tapi tidak pernah saling mengenali.”

“Kenapa kamu terkunci dalam bahasa seperti itu, seakan-akan kamu percaya ada yang tidak bisa saling menyentuh, ada yang tak bisa saling mengenal di dunia ini?” tanyanya. “Kita tidak pernah bisa saling bertemu karena kamu punya kepercayaan seperti itu. Kepercayaan yang sia-sia.”

Ketika kami menuruni batu-batu berkapur, hujan merembes ke dalam batu-batu berkapur itu, lalu mengucur kembali lewat batu-batu kerikil. Aku takjub melihat hujan yang bisa merembes. Aku takjub melihat hujan yang membuar arsitektur dari air. Dia yang telah membuat ruang menari. Dia yang telah memberi bentuk mati menjadi bentuk yang bergerak. Dia yang menghidupkan dan mengajak bermain kembali dengan memori-memori lama. Dia yang merajut kembali semua peristiwa dan lalu membiarkan kembali semua rajutan itu merembes ke dalam tanah sebagai air, melewati akar-akar rumput dan senyap. Dia yang memiliki keindahan yang tak tergantikan dan tak siapapun bisa memilikinya.

Aku tahu ia memang tak tersentuh. Aku tidak bisa menetes dan merembes. Aku terpisahkan oleh bahasa dan tubuhku sendiri yang telah menutup duniaku.

Hujan menatapku.

Matanya seperti ratusan jarum yang saling merajut.

“Aku ingin memberi warna pada dirimu,” kataku.

“Sebentar lagi akan ada pelangi yang turun di lembah ini, membuat lingkaran tipis, seperti garis-garis tangan pada telapak bayi. Semua kupu-kupu menganggap pelangi itu adalah ibu mereka.”

Aku memeluk bahu hujan. Air menetes di telapak tanganku. Terus menetes. Suara hujan yang jatuh di atas sebuah batu, menciptakan suara ketukan yang padat dan konstan. Hujan yang deras turun di kepalaku membuat mataku seperti dipenuhi oleh tangisan yang datang dari luar diriku. Mataku seperti berada di dunia yang lain, dunia dari tangisan yang datang dari luar. Aku tahu mataku tidak menangis. Tidak ada air mata.

Aku yakin memang tidak ada air mata. Mataku meyakinkan diriku berkali-kali, ini bukan hujan, ini tangisan yang datang dari luar. Mataku seperti telah meninggalkan tubuhku di lembah itu, karena keyakinannya bahwa ini bukan hujan, melainkan tangisan dari luar. Tubuhku tidak bodoh, dan tidak perlu membuktikan lagi bahwa ini hujan.

Hujan lalu menepuk bahuku. Air mengucur deras di kepalaku yang botak. “Hei, tolong, jangan main-main seperti ini. Jangan mempermainkan kepalaku yang botak dengan hujanmu. Jangan memain-mainkan jantung dan ginjalku. Kamu tidak bisa merembes ke dalam pikiranku walau kepalaku botak. Aduh jangan kurang ajar, dong. Nanti aku lempar kamu dengan kepalaku.”

Aku mengeluarkan payung dari tas punggungku. Aku juga mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Suara hujan membuat bunyi ketukan lain di atas atap payungku. Bunyi ketukannya membuatku yakin tidak akan ada bahaya yang datang dari atas.

***

HUJAN turun semakin deras. Kini aku duduk di atas sebuah batu lengkap dengan payung dan jas hujanku. Daun-daun kacang di lembah itu terus bergetar tertimpa air hujan. Getarannya membuat jejak-jejak yang aneh lewat gelombang-gelombang yang bergerak halus ke arah jempol kakiku. Aku merasa seperti bisa keluar dari tubuhku sendiri.

Tubuhku tiba-tiba menjadi sibuk, berbenah membereskan banyak hal. Aku mulai tak percaya aku sedang duduk, mengenakan jas hujan dan memegang payung. Aku mulai tak yakin dengan mata dan telingaku. Tapi tubuhku ternyata tidak bisa keluar. Ada yang macet di dalam, mampet. Tubuhku tidak memiliki pintu untuk keluar. Aku berusaha menjebolnya. Hujan turun semakin deras, merembes lewat poripori tubuhku. Tubuhku mulai banjir. Aku merasakan seperti ada tanggul yang akan jebol dalam tubuhku karena banjir yang besar itu. Tubuhku tiba-tiba meledak, seperti rajutan karet yang meledak.

***

AKU membersihkan serpihan-serpihan daging di bantal tidurku. Sebagian serpihan itu menempel di kelambu. Sinar matahari menerobos lewat kaca jendela kamar tidurku. Hujan sudah menungguku di teras depan. Kami berjanji untuk pergi berjalan ke sebuah candi hari ini.

Lalu aku keluar dengan payung.

“Kenapa kamu memakai payung?” tanyanya.

“Kenapa aku tidak boleh memakai payung?” aku balik bertanya.

“Karena aku merasa kamu seperti membawa peti mati di atas kepalamu,” katanya.

“Peti mati apa?” tanyaku.

“Peti mati untukku,” jawabnya.

“Peti mati untuk hujan?” tanyaku.

“Hujan di dalam peti mati,” tegasnya.

“Ini hanya payung,” jawabku. “Kamu tidak mungkin bisa terkubur di dalam payung.”

“Ah, duniamu tetap terkunci dalam bahasa,” kilahnya.

“Tidak. Bahasa hanya kata-kata, lalu kalimat, lalu titik, atau koma.”

“Tidak. Kalian telah mengunci dunia kalian di dalam bahasa.”

“Siapa yang kamu maksud dengan kalian?”

Hujan lalu merebut payungku, seperti mematahkan kaki kursi yang tumbuh di kepalaku.

Lalu hujan bergelayut di telapak tanganku. Lalu menetes dan membuat kalung di leherku. Lalu bergelayut di daun-daun bambu dan membuat percikan di lantai terasku. Lalu kami tertidur dalam pelukan yang penuh oleh warna hijau. Lalu daundaun kacang di lembah itu, yang membuat malam dari suara-suara serangga, saling bercerita tentang sekuntum bunga yang belum pernah tumbuh sebelumnya di lembahitu.(*)

***

Sunday, 1. February 2009, 01:11:27

Tulisan Kelinci Merah

BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.

Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.

Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan.

Hutan dengan langit-langit kecilnya di antara daun-daun kering yang melayang jatuh, menyimpan kenangan tentang yang berlalu dan berulang. Akar-akarnya saling menjalin, merajut tanah dengan air yang membasahinya. Waktu membangun arsitektur keheningan di dalamnya, terjalin dalam konstruksi kekosongan.

“Krak”

Sebuah dahan patah dan jatuh. Lepas dari batang pohonnya. Patah dan jatuh yang tak terbayangkan. Seperti ada pesawat yang gemetar pada setiap pohon tua dalam hutan itu. Hutan hanya membuat jalan melalui sungai yang dibentuknya sendiri berdasarkan gerak dan berat air, menelusuri relung-relung tanah. Ke bawah dan ke bawah, menemui relung-relung lainnya. Jalan yang tidak pernah berbalik melawan hutan itu sendiri. Uap putih tipis terus membubung, berangsur-angsur, dari daun-daun yang membusuk menjadi udara. Tak ada halaman belakang dan tak ada halaman depan. Sebuah sirkuit kehidupan dan kematian yang tidak memisahkan kedatangan dan kepergian. Ruang yang membatalkan semua awal dan akhir. Denyut hutan menembus ke dalam yang bukan aku lagi.

Nama hutan itu Arca Domas. Dilindungi oleh pikukuh, ketentuan adat yang tak boleh dilanggar. Pikukuh yang membatalkan listrik dan mesin, pikukuh yang tak boleh melukai tanah. Tanah tidak boleh digali, dipacul atau dibajak. Kontur tanah harus tetap terjaga dari erosi. Tanah hanya boleh ditusuk dengan bambu yang ujungnya telah diruncingi untuk kemudian ditanami. Pikukuh yang melarang menggunakan sabun, kaca maupun cermin. Pikukuh yang terus-terusan membatalkan perubahan. Kayu panjang tak boleh dipotong, kayu pendek tak boleh disambung.

Dalam hutan Arca Domas itu, sepanjang waktu yang terdengar hanyalah berbagai jenis suara serangga, burung, dan suara binatang lainnya. Tidak ada suara lain. Kini, hutan dalam rajutan berbagai frekuensi tinggi-rendahnya desing suara serangga, berulang, konstan, terdapat tiga orang makhluk. Mereka bertiga merasa telah terperangkap hidup di bumi melalui sebuah peristiwa yang tidak mereka mengerti. Peristiwa itu terjadi begitu saja. Berangsur-angsur, seperti berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Mereka bertiga juga tidak tahu asal-usul mereka.

Telah berhari-hari ketiga makhluk itu mondar-mandir dalam hutan itu, memakan apa saja yang bisa mereka makan. Di bumi, untuk pertama kalinya mereka merasakan tentang lapar, lelah, dan sakit. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal hidup, usia, waktu, cinta, kesepian, bosan. Sesuatu yang harus membuat mereka waspada. Mulai mengenal kesedihan, kebahagiaan, kenangan, dan kematian. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal tentang konsep Tuhan, alam semesta, dan keturunan. Konsep-konsep yang aneh karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana lumut diciptakan. Bagaimana tanah ada. Kesadaran yang kemudian lebih banyak dipelihara melalui kepanikan, seakan-akan ada dunia lain sebelum ada dan setelah ada yang membayanginya.

Bayangan yang membuat malam dan siang. Bayangan yang mulai membelah ruang di sana dan di sini. Mereka mulai belajar merangkak dalam hutan itu, belajar berdiri, berjalan, berjalan maju dan mundur, berputar, melompat, tidur dan belajar menghapus air mata. Belajar memanjat, mandi dan berenang di sungai. Belajar membedakan bentuk-bentuk dan warna, cuaca, membedakan bau tanah dan bau tubuh mereka. Belajar mengalami yang telah berlalu dan yang akan dilalui. Belajar membedakan antara aku, kamu, dan dia. Mereka mulai memberi nama-nama dari yang mereka alami, menjadi kata yang menyimpan pengertian-pengertian dari yang pernah mereka alami. Belajar membuat kalimat untuk menyimpan kisah-kisah dari yang mereka alami. Akhirnya mereka mengukuhkan keterperangkapannya melalui bahasa. Mereka ketakutan ketika mengetahui nafsu untuk hidup begitu menguasai mereka. Sehingga mereka mulai berburu, memakan binatang, memakan bentuk-bentuk kehidupan lainnya.

“Punten”

Mereka terkejut sendiri dengan ungkapan ini. Rasanya dalam, seperti ada liang dalam diri mereka. Liang yang membuat tangan mereka seperti tenggelam ketika mengucapkannya. “Punten.” Ungkapan permisi yang menghidupkan seorang aku sebagai seorang kamu juga. Ungkapan yang membuat liang dalam dirinya seperti terbuka dan mengisap semua keangkuhan dan perbedaan ke dalam konstruksi kekosongan. Ungkapan yang membuat mereka tahu bahwa hutan juga memiliki ruang dalamnya. Seperti ruang tamu yang terbuat dari aspal, batubara, berbagai logam, gas, dan minyak tanah.

Aku tidak bisa melihat ketiga makhluk itu. Aku merasakan mereka hanya melalui perpindahan gerak angin saat mereka berjalan di sampingku atau melalui dengus mereka. Mereka tidak bisa aku lihat. Tetapi mereka ada. Mereka seperti menggerakkan tanganku untuk menuliskan semua ini, sebagai penulis yang dipinjam.

Awalnya aku melihat seorang gadis yang berjalan bersama seekor kelinci berwarna merah dalam hutan itu. Gadis dan kelinci berwarna merah yang berada di tengah hutan seperti ini telah membuatku takjub. Aku seperti baru saja bertemu dengan kehidupan lain. Aku mengikuti gadis bersama kelinci merah itu. Sekali-kali gadis itu menoleh ke arahku. Tetapi mereka tetap berjalan, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Kelinci merahnya melompat-lompat. Matanya hitam, jernih, tanpa prasangka. Bulu lembutnya seperti menyimpan cahaya. Daun telinganya yang panjang menjulang ke atas. Kadang kelinci itu menatapku, lalu melompat-lompat lagi mengejar gadis itu. Kadang aku kehilangan mereka. Kadang mereka terlihat lagi, masih terus berjalan seperti sebelumnya. Kadang mereka seperti berada di sebuah padang rumput yang tidak ada batasnya, mengubah hutan menjadi hamparan rumput yang memenuhi seluruh yang bisa kulihat.

“Siapakah gadis itu? Siapakah kelinci merah itu?”

Setiap pergantian tahun, Pendeta Bumi, yang telah ada sebelum keterperangkapan ketiga makhluk itu, melakukan upacara Seren Taun, upacara pergantian tahun dengan seluruh umatnya sebagai Urang Kanekes, Baduy. Upacara yang sama juga berlangsung di Kanekes, Lebak, Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi, Kampung Naga, Cigugur, dan Kuningan. Sebuah agama Buhun yang telah ada jauh sebelum agama-agama polytheis dan monotheis menguasai dunia. Mereka menjaga hidup melalui pikukuh yang mereka rawat.

Mereka semua, sebagai urang Kanekes yang jumlahnya 11.174, termasuk anak-anak kecil, duduk bersila dalam upacara itu. Semuanya mengenakan pakaian putih-putih dan hitam-hitam, tanpa alas kaki. Mereka berkumpul seperti hutan dalam arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bicara atau bercakap-cakap. Mereka duduk seperti mandita, bertapa untuk menjaga harmoni hutan. Ketika mereka mulai bernyanyi bersama, jumlah 11.174 orang itu tetap merupakan bagian dari arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak berubah menjadi kekuasaan mayoritas. Partitur-partitur kekosongan mengalun melalui nyanyian mereka.

Nyanyian merdu dan indah yang membuat seperti ada angin berembus dari tubuh mereka, gemericik air sungai, bahkan tanah tidak merasakan kehadiran dan keberadaan mereka. Mereka yang hanya hidup dengan cara tidak ingin mencelakakan orang lain atau melakukan yang tidak disenangi orang lain. Mereka mengikuti jalan air, bukan jalan api. Antiperang, melukai atau membunuh. Kalau kamu mau hidup, yang lain juga boleh hidup.

Pendeta Bumi menyatakan tiga syarat untuk bisa membebaskan diri dari bumi: melanggar adat istiadat, menjadi gila atau bunuh diri. Ketiga orang makhluk itu seperti terbakar mendengar persyaratan itu. Mereka sudah tidak tahan berada di bumi. Tidak tahan berada bersama planet yang tidak masuk akal ini, di mana kehidupan dijalani hanya untuk menunggu datangnya kematian. Dan selama penungguan itu, orang menciptakan berbagai versi kehidupan: berbuat jahat kepada orang lain atau berbuat baik. Membunuh orang lain atau menyelamatkan orang lain. Menguasai atau membebaskan. Merampok orang lain atau menolong orang lain. Korupsi atau hidup dari kerja keras yang dilakukan sendiri. Bertemu atau berpisah. Mengakui kepercayaannya sendiri, tetapi menyerang kepercayaan yang lain.

Mereka mulai terbakar mendengar ketiga persyaratan itu. Semakin besar api membakar mereka untuk bisa membebaskan diri dari dunia, mereka merasa semakin terperangkap dalam bumi. Lapisan-lapisan perangkapnya semakin bertambah banyak. Setiap lapisan dipenuhi teriakan, jeritan, dan tangisan. Benda-benda di sekitar mereka bertambah banyak. Benda-benda untuk tidur, untuk mandi, untuk makan, untuk berjalan, untuk melihat, untuk berkata-kata, untuk mencium, untuk membeli dan menjual. Padahal tubuh mereka hanya satu, tunggal. Tetapi benda-benda yang mengelilingi mereka membuat tubuh dan diri mereka menjadi majemuk. Mereka berjalan dan hidup bertambah berat bersama dengan seluruh benda itu. Napas dan jantung mereka kian sesak.

Mereka bertiga saling melihat dan saling menunggu, syarat apa yang harus mereka ambil di antara ketiga syarat itu agar mereka bisa membebaskan diri dari perangkap bumi? Semakin mereka saling melihat, tubuh dan diri mereka bertambah majemuk. Bertambah banyak dengan lipatan 3, dan lipatan 3 lagi, dan lipatan 3 lainnya yang tak ada ujungnya. Akhirnya mereka melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Mencoba mendengar tubuh mereka di luar bahasa. Mereka mulai memasuki tubuh mereka sendiri seperti memasuki air yang dipenuhi akar-akar tanaman dan daun-daunan. Bau rempah-rempah dan bau sperma.

Aku lihat gadis bersama kelinci merah itu melayang-layang dalam hutan. Ia menyanyikan nyanyian cinta yang tidak kumengerti. Tubuhnya mengeluarkan uap yang wangi. Tubuh yang seakan-akan diciptakan dari wangi kembang melati.

“Punten,” kataku kepada gadis itu, ketika ia melayang di atas kepalaku. Gadis itu hanya tersenyum, lalu kembali menghilang dalam kerimbunan hutan. Tetapi wangi kembang melatinya seperti menetap. Upacara kemudian berakhir. Penguasa bumi dan umatnya meninggalkan tempat upacara. Hutan kembali hening. Suara-suara serangga, burung, dan binatang-binatang lainnya mulai kembali terdengar.

Ketiga orang makhluk itu tidak menempuh satu pun dari 3 persyaratan untuk bisa meninggalkan bumi. Mereka memilih diam, bisu, seperti para Urang Kanekes itu. Mereka mulai belajar melupakan bahasa. Belajar untuk tidak percaya bahwa mereka berpikir. Belajar tidak melihat dengan melihat. Belajar berjalan dengan tidak berjalan. Mereka mulai membatalkan suara-suara serangga dalam hutan itu dengan mendengar untuk tidak mendengar. Membatalkan seluruh isi hutan dengan melihat tanpa mengakui yang dilihat.

Mereka mulai merasakan telah memasuki ketiga persyaratan itu tanpa patuh dan tanpa mengikuti ketiga persyaratan itu. Yaitu dengan cara tiada. Menjadi yang hyang. Bersembunyi agar “ada” tidak menjebloskan mereka kembali ke dalam fiksi “keberadaan”. Ketiga orang makhluk itu lalu mulai melihat yang dilihat menjadi mengelotok, mengelupas, lalu berubah menjadi yang tak terlihat. Pohon, daun-daun, batang-batang pohon, batu, lumut, tanah, serangga, burung, semua dalam hutan itu mulai mengelotok, mengelupas, dan berubah menjadi yang tak terlihat. Semuanya bergerak menjadi yang hyang, yang hilang tetapi ada. Tak terlacak, tetapi ada.

Gadis bersama kelinci merah itu kembali muncul. Ia berdiri di atas sebuah batu besar. Kelinci merahnya melompat-lompat, berjalan ke arahku. Kedua daun telinganya seperti antena yang bergerak-gerak. Kelinci merah itu kini telah berada di depanku. Aku menyentuhnya, lalu memeluk dan menggendongnya. Ia mulai mengendus-endus hidungku, seperti berusaha mengenali bau tubuhku. Lalu ia mengembuskan napasnya berkali-kali ke hidungku. Aku mengisap bau napasnya. Gadis itu memanggilnya. Kelinci merah bergerak, dan melompat dari gendonganku, berlari ke arah gadis itu.

Mereka kemudian kembali menghilang. Kini sunyi. Suara serangga juga tidak terdengar. Aku mencoba mengingat kembali bau napas yang dikeluarkan dari hidung kelinci itu. Aku mencoba membandingkannya dengan bau napasku sendiri, dengan cara mengembuskan napasku ke telapak tanganku yang kubuat seperti bentuk mangkuk. Lalu aku mencium bau bekas napasku yang masih tertinggal di telapak tanganku.

Bau napasku ternyata sama dengan bau napas kelinci merah itu.

Setelah peristiwa itu, aku tidak pernah melihat bayanganku lagi. Tubuhku seperti tidak memiliki lagi bayangan, walau cahaya datang dari berbagai sudut. Sementara itu ketiga orang makhluk itu, kini tinggal di hulu sebuah sungai. Sungai Ciujung di pegunungan Kendeng. Mereka hidup hanya untuk menjaga air di hulu sungai itu. Mereka tidak lagi meminjam tanganku untuk menulis. Karena air terus mengalir, menulis kisah-kisahnya. (*)

Sumber: Kompascetak, Minggu 11 November 2012

Rumah Bercerita 460 Watt

Cerpen: Afrizal Malna
Sumber: Kompas, Edisi 04/02/2006

Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Memperbaiki talang yang bocor, menggali lubang untuk resapan, membuat pagar bambu, mengecat kamar mandi, memperbaiki engsel pintu dan jendela, memasang kabel-kabel listrik.

Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Tidak cukup untukku hidup. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Tapi aku akan mencobanya, hidup dengan 460 watt. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik, karena tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah, tidak terlalu membutuhkan listrik.

Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Kadang aku sebel, karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Kalau listrik tiba-tiba mati, karena pemakaian yang berlebihan, aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Karena sebel, kadang aku biarkan listrik tetap mati, lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.

Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Sebagai seorang penulis, aku menjadi sangat kerepotan. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Beberapa teman membantuku. Ah… Han, Boi, Katon, Wianta… tengkeyu. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. He-he… tengkeyu. Tengkeyu, man.

Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir, walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang.

Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Terus dikeduk, sehingga terjadi sebuah kubangan besar.

Di sebelah rumah, ada bilik sederhana berdiri, tempat seorang petani biasa beristirahat. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Kadang aku ragu, apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu, hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur.

Rumah ini sudah dua tahun kosong. Tak ada orang yang mengontrak. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka, termasuk mengusir rezim kesenian. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama.

Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka, dari teras depan hingga kamar mandi; beberapa lukisan berjamur, timbunan pasir yang mengotorinya, dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini.

Seorang teman bercerita, di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk, lalu mengalami kecelakaan dan mati. Pelukis perempuan itu sudah mati, tapi lukisannya masih ada. Ada di depanku. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat.

Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Waktu yang membuat sebuah pintu, tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan.

Sepasang anjing kami, Kopi dan Kremi, langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa, kecemasanku muncul lagi. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang.

Lembab. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas, tetapi karena lembab. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu, kadang kilatan-kilatan petir. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu, aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu, atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku.

Antara aku dan genteng kaca, seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Dan mereka tidak bisa saling mendusta.

Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang, tapi aku melihat tubuhku sedang mandi, membersihkan diri dari kotoran. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai, atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu.

Kira-kira 10 tahun yang lalu, aku pernah datang ke rumah ini. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto, seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Dadang menyewa tanah ini selama 15 tahun, dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Orang cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu.

Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air.

Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Betapa malangnya hidup ini, kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan.

Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur, lalu berdiri sebuah bangunan baru, entah untuk rumah atau untuk ruko. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi, diambil oleh beton-beton.

Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan, agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.

“Dang, apakah rumah ini pernah mengalami banjir?” tanyaku kepada Dadang. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya, karena dia harus pindah ke kota lain.

“Ya, kalau hujan besar, air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang,” jawab Dadang.

Aku teringat 1.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut, di Ancol, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok.

Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut, dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. 1.000 patung Dadang ada di dalamnya, mungkin diberi judul: “Instalasi Manusia Pengungsi”.

Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Manajer itu orang asing. Ketika dia meninggalkan rumah ini, dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku, aku harus kembali menimba air dari sumur.

Rumah itu memang terus bercerita. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Dan aku mulai kehabisan uang. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Ketika aku tak punya uang, rumah itu mirip dengan peti mati. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Kalau aku mati, pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup, maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati.

Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela, bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.

Hmmm…

Hmmm…

He-he-he.

Fit, sayangku, hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Dia akan datang dengan sebotol Vodka, saxophon, dan sebuah harmonika. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme.

Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Aku terus menggali.

Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Waktu terasa dingin, bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Perutku seperti tertekuk ke dalam, menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air.

Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Mata menatap mata. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri, dan bukan bayangan mata air. Kalau itu juga adalah bayangan mata air, maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata.

Hujan mulai berhenti. Langit mulai terang, biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur.

……

Aku melihat hidup.
Support : Arsip Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Pecinta Malna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger