4 Sajak Afrizal Malna di Buku: Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing



Kota-Kota dalam Tas Koper

Di jendela kereta, ombak bergerak di jendela kereta, seperti tangan waktu yang datang dari Selatan di jendela kereta. Berjalan bersama padi-padi hijau, buih putih di jendela kereta. Tas-tas berjejer dalam kereta, masing-masing menyimpan sebuah kota. Di jendela kereta. Terkunci. Petak-petak garam membuat warna putih dari punggungmu di jendela kereta. Tubuh yang lebih dekat dengan dirinya, suara kereta dan senja di jendela kereta. Aku menciuminya seperti bunga-bunga kopi yang datang dari sebuah pagi di jendela kereta.

Satu jam lagi, Semarang akan datang padaku, seperti kota abad 18 dalam pelukanmu. Tapi masih ada flu di hidungku, yang datang dari kipas angin dalam kereta itu. Soda susu, nasi rawon, dan lontong opor ayam. Sebelum kau terbangun, anak-anak berlarian membuat tawa dari mimpimu. Titik-titik hujan di jendela kereta, membuat lagi kota yang lain, sepanjang ciuman yang membuat tubuhmu bening seperti toples air.

Di Iuar jendela kereta, pohon-pohon berjalan di luar jendela kereta, bersama langit di luar jendela kereta, kawanan itik di luar jendela kereta, perahu-perahu nelayan di luar jendela kereta, seperti pusaran yang seluruhnya bergerak di dasar tubuhmu. Dan waktu adalah bayi-bayi tanpa ibu.

Satu jam lagi, pagi ini, laut akan datang, mulai menyentuh kaki-kaki kota. Hidup menjadi lebih panjang. Kota, laut, daratan yang bertemu seperti anak-anak yang mengambil sebutir permen dari tasmu. Aih, kenapa di luar juga ada ibu 80 yang datang, membawa pisang dan piring-piring tua. Dia bilang, “aku adalah waktu”. Halaman masa kanak-kanak yang mulai berwarna kecoklat-coklatan, jendela-jendela dari bentangan sawah. Telpon dari bekas kekasih, dan deretan hutan pinus yang masih menyisir kesedihan dari alis mataku. Lalu hujan turun, seperti pelukan yang tak henti-henti membangun kotanya sendiri.

1998



Mari Aku Sisir Alis di Matamu

Tadi sudah aku beli ketimun, lima buah. Warnanya hijau pucat. Mari aku lihat alismu, aku sisir. Masa kanak-kanak memeluk punggungmu lagi dari belakang. Ada tawa bayi yang membuat waktu di pintu kota. Masa kanak-kanak berlari lagi, bercerita lagi padaku. Ah, tembok-tembok itu seharusnya tidak berdiri, seharusnya biarkan sawah-sawah datang padaku setiap hari, angin datang padaku setiap hari, dan tetangga-tetangga juga datang meminjam minyak goreng atau mengambil buah mangga. Seharusnya tanah ini tidak dipenuhi lagi oleh rumah-rumah. Seharusnya aku sudah mencintaimu seiak 100 tahun lalu.

Aku sudah mandi, sudah sikat gigi. Tubuhku kini berbau buah sawo. Dan tubuhmu pagi yang abadi, yang membuat rencana-rencana. Besok aku akan mengajakmu naik perahu, seperti sungai Musi yang membuat kota Palembang. Besok aku akan mengajakmu membuat manisan belimbing. Kamu berjalan berjingkat, menggambarkan politik seperti kesibukan mencuci piring di dapur. Besok kita buat rujak dari jambu yang aku petik di kebun. Mana madunya, mana bunga mawarnya, lalu puisi-puisi Rumi tentang cinta. Aku memelukmu dengan langit yang tumbuh di telapak tanganku.

Biarkan langit ada di situ. Biarkan orang memandangnya, memberikan warna biru pada mimpi-mimpinya. Dan masa kanak-kanak yang berlari lagi memelukmu dari belakang. Menelponmu saat-saat kesepian. Biarkan hujan sendiri yang membawa payung. Aku tidak mengubahnya. Kita berjalan berjingkat, melihat dunia di luar bergerak seperti masa kanak-kanak kita. Lalu ini langit untukmu, langit Oktober, aku baru memetiknya dari kebun. Hingga pagi menjelang dari tubuhmu.

1999



Mayat Politik Ditutupi Koran Pagi

Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden di rumah sakit Tangan dan lehernya mengeluarkan gergaji. Tapi dewan perwakilan rakyat harus dibuat lagi. Seperti membuat matahari dari daun pisang. Ada orang hilang. Tanah telah memuntahkan tubuhnya kembali. Sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya. Ada orang hilang. Gedung parlemen berbau mayat, dapurnya juga berbau mayat. Presiden harus dibuat lagi. Kabinet harus dibuat lagi. Tapi ada orang hilang. Matanya ditutup politik yang terbuat dari gergii. Tanah muntah. Tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. Ada orang pecah. Tanaman muntah. Tak bisa lagi berbuah. Hutan membakar dirinya sendiri. Bangunan membakar dirinya sendiri. Orang dibakar, terbakar. Orang diperkosa. Negeri diperkosa. Tanah diperkosa. Ada orang hilang, aku menculik diriku sendiri. Parlemen harus dibuat. Mahasiswa menyerahkan badannya di depan tombol diktaktor. Ada orang hilang! Mayat gosong. Kepercayaan yang telah menyimpan mayat. Ada bahasa yang mengancam lehermu. Kepercayaan yang pecah. Anak-anak tak bisa minum susu, tak bisa sekolah. Buku-buku mahal. Padi tak berbuah lagi. Ada gunung meletus. Rakyat harus dibuat. Demo harus dibuat. Ada tempat penyiksaan. Tulang-tulang digali dari lehermu. Pintu parlemen digergaji. Ada matahari, lembut, terbuat dari daun pisang. Kemari. Dengar. Ini negeri untukmu. jangan begitu memandangku. Aku mayat. Mayat politik Yang pernah diculik. Disiksa. Jangan menguburku seperti itu, seperti mengubur negeri ini. Jangan. Kemari. Dengar. Ini tanganku. Masih hangat. Seperti pembalut politik untuk menutup matamu. Kemari. Mari. Masih ada seratus tahun lagi di sini, ini, di tanah ini.

1998



Reformasi Jam 1 Siang dan Telur Asin

Jam 4 siang nanti, Mono, Mogan, Budi, tenda-tenda perubahan, kesenian yang terbongkar mendengar teriakannya sendiri, jam 11 siang, Andre, Lili, Bunda, Panggung untuk cinta dan kemarahan, Mualim, Labbes, Ibau, Tamba, jam 6 sore, kemana Garin pergi, kemana Sitok pergi. Busro, Lulu, Indra, Romi, ada isu dari telpon, teror lima ratus perak, paranoia-paranoia yang terus membuat politik dari singkong goreng, seni, seni yang hidup di dalam bacot, jam 9 malam nanti, kemana Jabo pergi, Fahmi membuat Padamu Negeri di sana. De Rantau berteriak taik. Wahyu, Ikra, Gallis membuat topeng-topeng tiga ratus ribu perak, mereka kirim nasi untuk makan kita, jam 11 malam, di kantong tinggal 1000 perak, demo terus bergerak, membuat politik dari kepalan tangan, kita buat juga cinta, bunga kertas untuk reformasi, panggung yang gugup menerima kebebasan, Anas, ini buku-buku hanya diiual di sini, jam 1 siang nanti, kita hidup dari sedikit humor, segelas kopi sedikit lebih manis,  Zamzam, Dindon, Azuzan, ini kompor untukmu, bongkar semua tempat tidur untuk kesenian, kuburan jam 7 malam untuk tombol-tombol politik masalalu, digali lagi dalam mulut-mulut yang penuh meja, foto copy, fax, rekaman mayat-mayat dibakar, arang yang terus membara pada tubuh-tubuh jam 12 malam, mana nomor telponmu Jolly, bangkrut, wawancara lagi, Kamil mengirim surat untuk Tuan Presiden, dan panggung miring mengirim kapal ke dasar laut, beri aku sikat gigi dan mandi pagi, di sana ada gudang beras, pabrik duit, hutan ketakutan yang ditanam telah terbakar, apinya menyambar seperti tangan-tangan sibuk mencari pegangan, Cikini, reformasi di sini, ketika kendang mulai ditabuh, puisi dibacakan, pidato yang penuh batu, dan kucing lahir dalam kardus di Minggu pagi, aku di sini menjaga kata dalam sebuah gerobak, melihat dongeng dalam mikropon, nanti jam 9 malam, hantu-hantu politik akan membuat sebuah demokrasi dari sapu tangan dan gergaji, nanti Firman, ketika burung-burung datang mengirim kesenian dalam kantong-kantong plastik, truk-truk kosong jam 12 malan nanti embun mulai turun di pipi kami.

1998

Puisi Afrizal Malna: Enam Paragraf Dari Ibu


Enam Paragraf Dari Ibu

P A R A G R A F  1:   SEKOLAH     TELAH     TERBAKAR Padamkan api. Aku sedang menunggumu di wartel. Kompor sudah disiapkan, bukan untuk memasak seekor anjing. Ah, Negara, mungkin hanya sebuah dusta bersama. Bangsa yang menyimpan gergaji di lehernya. Mungkin kekasihmu telah pindah kerja, dan sekarang bekerja sebagai penjaga toilet di bandara. Mungkin dia sudah punya anak dengan orang lain. Mungkin dia sebenarnya adalah ibumu, yang bajunya pernah kau pake dalam sebuah pesta pernikahan.

PARAGRAF 2: AWAS    TOMBOL    LISTRIK    NEGARA Pagi, di bawah jemuran pakaian basah.Bekas air cucian masih menetes.Perusahaan listrik negara sedang melahirkan seorang raksasa buta dalam sebuah tombol. Rumah-rumah  menjadi api. Rakyat menjadi api. Tangisannya menjadi api. Air terus menetes dari jemuran basah: apakah kita, apakah bangsa, apakah ember, apakah got, apakah partai, apakah parlemen, apakah rongga mulut, seluruh lubang yang menganga menunggu tetes air bekas cucian ibumu.

PARAGRAF 3:  NASI  BASI  DALAM  MULUTKU Burung-burung putih dari selendang ibumu. Kau sedang merebus lapangan basket, aku lihat dari jendela, bolanya melembung kian besar, melompat-lompat, menerjang atap dapur, menerjang piring-piring, kembali lagi ke dalam panci, direbus lagi. Bolanya melompat-lompat, membesar, membuat lapangan basket baru di dapur. Dan nasi basi dalam mulutku. Ibu, ibu jenasahmu masih terus ada di pangkuanku.

PARAGRAF 4: KEMATIAN SEORANG TUKANG GIGI Kau percaya dengan semacam kebahagiaan? Seluruh kesedihan. Sapu tangan yang baru saja disemprotkan pengharum. Hanya lidahmu yang belum pernah kukunyah. Gigi menunggu matahari terbenam di Pelabuhan Ratu. Pantai seperti baru saja disiram cairan cat berwarna perak. Kaki langit, merah, seperti lidahmu. Batu karang menghujam punggung waktu. Penyakit gula membongkar seluruh lemak di betismu, ibu. Dan kematian, seperti keong yang keluar dari rumahnya. Kuda dan srigala berhamburan dari pohon-pohon kelapa. Kau percaya, sapu tangan untuk menyimpan gigimu sepanjang waktu?

PARAGRAF 5: AKU SIBUK MENCARI MESIN JAHIT  Ibu, dang ding dong, ibu, tok, tik, buk, prang, ibu, duk duk ting plas. Aku sedang menjahit, ibu. Menjahit sebuah sarung. Sarung dari waktu dan cintamu.

PARAGRAF 6: TEPUNG BUNGA Aku pukuli wajahku senja itu, hingga bintang-bintang sampai di stasiun kereta api. Sebatang jarum menancap di dadaku, jarum dari seorang ibu. Aku pukuli wajahku senja itu, hingga batu-batu membawa sebuah ambulan ke kantor pos. sebatang jarum menyayat perutku, jarum dari seorang ibu. Aku pukuli wajahku senja itu, hingga mataku menangis di depan seekor anjing. Sebatang jarum menjahit tanganku, jarum dari seorang ibu. Jarum yang menjahit tanganku di antara bintang-bintang, tempat manusia berjanji pada hidupnya. Dan aku memeluknya hingga darah berhamburan dari mulutku. Hingga aku lihat jarum sedang menjahit bunga-bunga dalam pelukanmu.

Terakhir kali, sebelum aku tak sanggup lagi melihat benang-benang mengucur dari renda  yang kau sulam, benang-benang di kaos kakiku, benang-benang dalam sebutir telur. Anak-anak yang memanjat pagar dan merobohkannya di atas pusar ibunya.

Disadur dari Buku Kumpulan Sajak Afrizal Malna : Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

5 Puisi Afrizal Malna di Koran Tempo 25 Maret 2012


TAK ADA ARTINYA

Gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
Dari suaranya
Berdiri melingkar
Di depan bulatan penuh perangkap waktu
Jari-jari yang menggenggam tikus
Dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
Seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
Memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
Dimuntahkan kembali dari ketakutannya
Cermin yang menjadi buta ketika melihat
Diding di dalamnya
Dan selembar rambut di atas koran pagi
Air yang menyebrang di atas jembatan
Melintasi sungai
Melintasi tetesannya
Tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
Menyimpan gema dari
Hutannya

TAMU MISTERIUS

Sayang sekali puisi ini telah dihapus ketika aku akan membacanya. Seperti udara lembab yang menarik lenganku untuk memegang yang akan jatuh. Ada apa dengan menghapus? Lem, gunting, benang yang membuat bayangan tentang kawat berduri. Aku menghapus kata hapus dari dokumentasi, seperti keluar dari kawat berduri itu. kembali ke lem, gunting, benang dari setiap kata untuk menyembunyikannya, menghilangkan dan menghapusnya sekali lagi. Dan sebuah ketukan tak pernah terhapus

Tamu itu menduga aku tidak memiliki kursi untuk mati, jika tidak memiliki lantai untuk hidup. Menunggu. Ditunggu. Janji jam tujuh malam. Ia suguhkan kata penghapus dari sebuah toko buku kepada tamunya, seperti bayangan yang terlepas dari tempatnya. Kamu tamuku yang aku tunggu dari kesalahan mengetik kata hapus dari sebuah cerita tentang pagi hari yang cerah. Kau sudah tidak sempat lagi merapikan yang tidak bisa lagi dihapus, setelah puisi ini. penghapusnya membuat jam 5 sore, tembus hingga tak terlihat lagi kekosongannya

SURAT DARI BIJI KOPI

Bau kopi keluar dari napasnya, seperti jalan lurus yang bagian belakangnya menghilang. Ia duduk di bagian belakang dari bau kopi itu. Biji-biji kopi itu membuatnya ingin bergerak, antara air yang mendidih dan suhu yang tak terukur dalam pikirannya. Bau kopi ini untukmu menangis, dan membiarkan kenangan membuat bingkai-bingkainya sendiri pada sisa kopi di dasar cangkirnya. Dan ia kembali duduk di bagian belakang bau kopi, sisa hangat antara pahit dan manis di lidahnya. “Cinta”, dia seperti ingin jatuh, telungkup dan menggenggam semua yang berjatuhan dari biji-biji kopi. Kapal-kapal yang bergerak sendiri mencari bau kopi, kuburan petani kopi, cerita yang saling mengunjungi dan menghapus pasir di pantai. Bau itu mengikatnya lebih dalam dari semua yang mengabur di depannya, dari semua yang menghilang di belakangnya

MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata tidur. orang di sini membawa beban berat. bukan soal melihat. Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur. Aku tidak berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat. Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Keadaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan. Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup menjadi mudah karena memang hidup sudah tidak ada. menjadi benar oleh kebohongan-kebohongan. Menjadi indah oleh kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu

PROSES LETUPAN KAPUR SIRIH

Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk-bentuknya yang seperti batu karang itu mulai mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya. Akan muncul permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan letupanya menggenggam uap panas hingga ke ujung lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.

Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan bayangan hitam.kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu, yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan membisukan dering telfon. Proses yang menggodaku untuk mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya, tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum bermimpi


(Koran Tempo, 25 Maret 2012)

Beberapa Sajak Afrizal Malna Berikut Terjemahannya dalam Bahasa Inggris



Warisan Kita

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku,

sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau

1989

Our Inheritance

Speak again my goat, my knife, my field, my stove, my house, my umbrella, my saw, my fishpond, my glass tile, my bucket, my gas lighter. Speak again my mirror, my adze, my eating table, my writing eguipment, my drinking glass, my family photo album, my chickens, my rice barn, my rice knife.

Speak again voices of my ancestors, my crowbar, my goat my books, my eating dish, my waer pomp, my hammer, my hoe, my pantry, my bird cage, my bycicle, my flowers, my water gutter, my bed. Speak again my water buffalo, my flashlight, my relatives and neighbors, my scissors, my rice knife.

Speak again my guest's chair, my work, my tobacco, my rice pounder, my blanket, my warm clothing, my cookinh pan, my hat. Speak again my cats... knife.

1987

translation by Marianne Koenig
______________________________

Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam

Saya temui lelaki itu, sisa-sisa tubuh sebuah koloni di bangunan tua lantai atas, Benteng Fort Rotterdam. Ia seperti hempasan ombak Pantai Losari, membuat bantal tidur saya berkeringat di malam hari. Udara laut membuat sebuah lubang di pintu, lalu bercerita tentang hantu-hantu tentara berbaris, jeritan perempuan dari sumur tua, dan biskuit di piring seketika habis oleh kerubungan semut merah.

Benteng Fort Rotterdam jadi bulu kudukku yang berdiri, di antara bangunan tua tempat anak-anak kursus bahasa Inggris. Mereka tak mengenalnya: seorang lelaki memancang tubuhnya pada tembok-tembok Benteng Somba Opu, dari serangan meriam Kompeni yang mengepungnya dari laut. Saya merasa sendiri dengan sepatu buatan Jerman di kaki saya, bersama udara laut yang tak henti mengirim garam halus di bibir saya. Kisah itu membuat batu berjatuhan pada kalimat-kalimatnya. Keras. Urat di tangan menutup malam.

Siang hari, peperangan dengan Kompeni berlangsung kembali, dengan kursus-kursus bahasa Inggris, musik-musik metal dalam kendaraan-kendaraan umum, film-film Amerika di TV, anggaran belanja daerah....

Ram, sahabatku, aku tinggalkan seorang lelaki di lantai atas bangunan tua itu. Mengucur hingga tempat tidur ibumu.


1994

A Man at Fort Rotterdam

I met with that man, the bodily remains of a colony, upstairs in an old building, Fort Rotterdam. He was like the pounding of the breakers on Losari beach, making my pillow sweat in the night. The occan air made a hole in the door, then told of soldiers specters marching in information at night, a woman's screams from inside an old well, and a biscuit an a plate instantly consumed in a swarm of red ants. Fort Rotterdam is my hair standing on end, full of homeless souls, between the old buildings where children take English classes. I didn't invite the man to cat fried rice, lined up along Loxari beach. To know him, I must imagine a man staking his body to the walls of Fort Somba Opu, against the Kompenis cannon attacks besieging it from the sea air delivering endless fine salt upon my lips. That tale makes rocks rain down on his sentences, hard the tendons in the hand encloing the night.

Midday, war with the Kompeni resumes, with lessons, Heavy Metal on the public transport. American films on TV, the regional spending budget...

Ram, my friend, I left a man in that old building upstairs, gushing forth to your mother's bed.

1994

translation by Linda Owens
______________________________

Asia Membaca

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Dan kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu menghancurkan; dan cerita lama memanggil lagi dari negeri lain, setiap kata berbau bensin di stu. Kami terurai lagi lewat baju-baju baru. Asia. Kapal-kapal membuka pasar, mengganti naga sapi dengan minyak bumi.

Asia. Kami masuki dekor-dekor berbagai kekuatan, bendera-bendera baru, seks dan cinta yang lain lagi. Kota-kota dalam baju warna-warni. Mengantar pembiusan jadi jalan di malam hari. Asia.... Tempat membaca yang tak boleh dibaca, tempat menulis yang tak boleh ditulis.

Tanah berkaca-kaca, Asia, mencium bau manusia, Asia, menyimpan kami dari segala zaman, Asia. Tempat leluhur mencipta kata. Asia hanya ditemui, seperti mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.

Asia

1985

Asia Reads

The sun has freed itself of its adornment, yet we still face the same sky, the same land. Asia. After the gods have gone been fossilized in TV antennae, after times of destruction, which hearken back old tales from another world, words smell of gasoline. And we express ourselves trough a different set of clothes. Asia. Ships open markets, replacing dragons and oxen with petroleum. To take us where telephones are ringging.

There we crawl, in a contest of power. Silence takes over the roads at night. Asia. And then we bring in new adornments, new flags, different loves, to find that days exceed time; reading what may not to be read, writing what may not written.

The land glistens, catching the scent of man, saving us from all times. Asia. We understand once more the roar of the sea, the place to which the ancestors sent birds, created words. Asia is to be discovered, like night seeking alost plot of land; the place language is born.

Asia.

1985

translated byi John H. McGlynn
______________________________

Pelajaran Bahasa Inggris Tentang Berat Badan

Maaf, berapa berat badanmu? Sebentar saja, kepalaku satu kubik pasir. Tanganku 60 cm. Permisi, berapa jam berat badanmu? bibirku tebal. Tentu, kakiku coklat, seperti bangunan pemerintah. Berat badanmu bagaimana, please. Namaku Ahmad, tolol! No, kepalaku satu kubik pasir. Ada saluran got. Irisan daging di wastafel. Tunggu. Kenapa tanganmu keras? Seperti kekuasaan. Kamu punya kebudayaan, ya? Wajahmu merah. Anda suka juice tomat? Maaf. Berat badanmu siapa? Kakiku ada di situ, tolol! Please... please. temani badanku. Jangan begitu. Satu karung pasir untuk apa? Sorry... di mana berat badanmu? Maaf, jangan pegang hidungku. Kekasihmu mana? Wortel dan buncis sudah direbus. Permisi, sudah mendidihkah air itu? Bulu kucing di matamu lucu, ya. Beautiful. Pakai saja baju batik itu. Nanti pacarku curiga. Jangan lupa, namaku Ahmad! Idiiiih, masa tidak pakai sabun. Aaaaaaa, kok kupingnya seperti itu? Maaf, pernah melihat berat badanku? Mau membuat esei, ya? Tentang kebudayaan? Analisa politik dan ekonomi, ya. Sakit, dong, tanganmu.


1995


An English Lesson About the Weight of The Body

Pardon, how much is your body's weight? Just a moment, my head is cubic of sand. My hands are 60 cm. Excuse me, how many hours is your body's weight? My lips are thick. For sure, my feet are brown like the goverment building. How is your body's weight, Please. my name is Ahmad, you fool! No! My head is one cubic os sand. There is a gutter. Tears at the wash basin. Rain in a bucket, wait. Why are your hands hard? Like the power. You have culture, do you? Your face is red. Do you like tomato juice? Pardon. Who is your body's weight? My feet are there, you fool! Please... Please. Accompany my body. Not like that. A sack of sand for what? Sorry... where is your body's weight?. Pardon, don't hold my nose. Where's your beloved? Carrots and beans are already cooked. Excuse me, is that water already boiled? The cat's hair in your eye is funny, isn't it? Beautiful. Just wear that batik shirt. It will make my girlfriend suspisious. Don't forget, my name is Ahmad. Ugh, how can you do without soap? Ah, how come his ears are like that? Pardon, you ever saw your body's weight? Want to make an essay, do you? about Culture? A political and economic analysis, yes. Your hand will hurt, of course.

1995

translation by Marianne Koenig

Tujuh Sajak Afrizal Malna



Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengambil batuk dan demamku dengan jari-jarinya yang terbuat dari tulang-tulang ikan, dengan jari-jarinya yang terbuat dari darah ikan. Laut tempat waktu melukis seluruh warna di permukaannya. Laut yang membuat kerudung ibumu seperti lempengan emas di senja hari. Sebuah hempasan waktu yang telah menelan seluruh leherku.

Kamar yang terbuat dari laut itu kemudian bercerita … kau telah menjadi seorang ibu, Ram, untuk masa kanak- kanakmu sendiri.



Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku


Aku mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik, tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku. Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela. Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam tubuhmu.



Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar


Sebuah truk mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu, seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.

Manusia dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang jagal.

Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.

Guru dan murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan, punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api. Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat tatapan matamu.

Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan, melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak tangan.



Aku Baru Saja Mengepel Lantai


Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi. Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam pikiranku.

Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu. Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam. Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.



Korek Api di Atas Bayanganmu

Ada masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih. Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu: Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.



Sebutir Telur di Belakang Punggungku


Kau telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara. Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.

Di kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir. Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.

Lalu aku buat sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih seperti musim dingin.



Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.
Support : Arsip Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Pecinta Malna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger