Home » , » 5 Puisi Afrizal Malna di Koran Tempo 25 Maret 2012

5 Puisi Afrizal Malna di Koran Tempo 25 Maret 2012


TAK ADA ARTINYA

Gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
Dari suaranya
Berdiri melingkar
Di depan bulatan penuh perangkap waktu
Jari-jari yang menggenggam tikus
Dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
Seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
Memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
Dimuntahkan kembali dari ketakutannya
Cermin yang menjadi buta ketika melihat
Diding di dalamnya
Dan selembar rambut di atas koran pagi
Air yang menyebrang di atas jembatan
Melintasi sungai
Melintasi tetesannya
Tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
Menyimpan gema dari
Hutannya

TAMU MISTERIUS

Sayang sekali puisi ini telah dihapus ketika aku akan membacanya. Seperti udara lembab yang menarik lenganku untuk memegang yang akan jatuh. Ada apa dengan menghapus? Lem, gunting, benang yang membuat bayangan tentang kawat berduri. Aku menghapus kata hapus dari dokumentasi, seperti keluar dari kawat berduri itu. kembali ke lem, gunting, benang dari setiap kata untuk menyembunyikannya, menghilangkan dan menghapusnya sekali lagi. Dan sebuah ketukan tak pernah terhapus

Tamu itu menduga aku tidak memiliki kursi untuk mati, jika tidak memiliki lantai untuk hidup. Menunggu. Ditunggu. Janji jam tujuh malam. Ia suguhkan kata penghapus dari sebuah toko buku kepada tamunya, seperti bayangan yang terlepas dari tempatnya. Kamu tamuku yang aku tunggu dari kesalahan mengetik kata hapus dari sebuah cerita tentang pagi hari yang cerah. Kau sudah tidak sempat lagi merapikan yang tidak bisa lagi dihapus, setelah puisi ini. penghapusnya membuat jam 5 sore, tembus hingga tak terlihat lagi kekosongannya

SURAT DARI BIJI KOPI

Bau kopi keluar dari napasnya, seperti jalan lurus yang bagian belakangnya menghilang. Ia duduk di bagian belakang dari bau kopi itu. Biji-biji kopi itu membuatnya ingin bergerak, antara air yang mendidih dan suhu yang tak terukur dalam pikirannya. Bau kopi ini untukmu menangis, dan membiarkan kenangan membuat bingkai-bingkainya sendiri pada sisa kopi di dasar cangkirnya. Dan ia kembali duduk di bagian belakang bau kopi, sisa hangat antara pahit dan manis di lidahnya. “Cinta”, dia seperti ingin jatuh, telungkup dan menggenggam semua yang berjatuhan dari biji-biji kopi. Kapal-kapal yang bergerak sendiri mencari bau kopi, kuburan petani kopi, cerita yang saling mengunjungi dan menghapus pasir di pantai. Bau itu mengikatnya lebih dalam dari semua yang mengabur di depannya, dari semua yang menghilang di belakangnya

MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata tidur. orang di sini membawa beban berat. bukan soal melihat. Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur. Aku tidak berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat. Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Keadaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan. Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup menjadi mudah karena memang hidup sudah tidak ada. menjadi benar oleh kebohongan-kebohongan. Menjadi indah oleh kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu

PROSES LETUPAN KAPUR SIRIH

Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk-bentuknya yang seperti batu karang itu mulai mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya. Akan muncul permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan letupanya menggenggam uap panas hingga ke ujung lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.

Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan bayangan hitam.kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu, yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan membisukan dering telfon. Proses yang menggodaku untuk mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya, tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum bermimpi


(Koran Tempo, 25 Maret 2012)

0 komentar:

Support : Arsip Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Pecinta Malna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger